Dewan Sayangkan Perolehan PAD Berau Masih Kurang dari 10 Persen Total APBD
Anggota DPRD Berau, Rudi P Magunsong dan Garce
POSKOTAKALTIMNEWS,
BERAU : DPRD Berau masih menyoroti soal rendahnya Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Berau yang hanya sekitar Rp450 miliar dari total Rp6 triliun APBD atau kurang
dari 10 persen.
“Ini preseden buruk.
Karenanya kami meminta dilakukan audit total, baik dari aspek keuangan maupun
kinerja manajemen, bahkan hingga pertanggungjawaban direktur dan Bupati,” ungkap
Grace Warastuty Langsa dalam Rapat Paripurna DPRD Berau di Gedung DPRD, Jalan
Gatot Subroto, Kelurahan Sei Bedungun beberapa waktu lalu.
Rendahnya kontribusi
ini tambah Grace, merupakan kegagalan empat perusahaan daerah (Perusda) yakni, Bakti
Praja, Hutan Sanggam, PLTU, dan PDAM.
“Minim Kontribusi PAD
ini kami minta dilakukan evaluasi total kinerja Perusda dengan meminta
terhadap Bupati untuk melakukan evaluasi menyeluruh karena lemahnya kinerja
Badan Usaha Milik Daerah (BUMD),” tegasnya.
Kritikan senada juga disampaikan
Ketua Komisi II DPRD Berau, Rudi P Mangunsong, menilai seharusnya aset milik
daerah yang dikelola melalui Perusda seharusnya mampu memberikan pemasukan
signifikan bagi keuangan daerah, bukan sekadar menjalankan fungsi pelayanan.
“Karena Perusda itu
merupakan kekayaan daerah yang dipisahkan. Jadi tidak hanya berbicara soal
pelayanan, tetapi juga bagaimana bisa memberikan kontribusi nyata terhadap
PAD,” ungkap Rudi.
Dalam kesempatan itu
Rudi juga mencontohkan beberapa Perusda yang dimiliki Kabupaten Berau, seperti
PDAM, Perusda Bakti Praja, dan Perusda Pertolongan Konsorsium yang terlibat di
proyek PLTU. Kenyataanya hingga tahun 2025 , sebagian besar Perusda tersebut
tidak mampu menyumbangkan dividen sama sekali.
“Hanya Perusda Hutan
Sanggam yang mampu menyetor sebesar Rp28 juta. Itu pun hanya setara satu bulan
gaji karyawan. Kondisi seperti ini jelas tidak sehat,” ujar Rudi lagi
Rudi mengungkapkan,
berdasarkan hasil kajian Komisi II, salah satu penyebab rendahnya kontribusi
adalah tingginya biaya operasional dibanding harga jual produk atau jasa yang
dihasilkan. Hal ini, kata dia, tampak jelas pada PDAM yang masih belum mampu menyetorkan
PAD karena biaya operasional per meter kubik air terlalu tinggi. Politikus PDI
Perjuangan itu mendesak agar Bupati Berau segera melakukan evaluasi menyeluruh
terhadap seluruh Perusda melalui audit kinerja.
“Kami minta ibu
bupati melakukan evaluasi kinerja setiap Perusda. Harus ada langkah nyata agar
aset daerah ini tidak terus membebani keuangan daerah,” tutupnya.
Sementara itu Bupati
Berau Sri Juniarsih Mas menjelaskan terkait kondisi empat Perusahaan Daerah
(Perusda) yang belum mampu memberikan kontribusi optimal. Ia menilai,
keterbatasan sumber daya alam dan tantangan manajemen menjadi faktor yang perlu
dicermati bersama.
“Perusda tetap harus menjadi perhatian kita bersama. Meski belum bisa memberikan deviden besar, saya tidak mewajibkan peningkatan retribusi dari masyarakat. Fokus kita adalah pelayanan terlebih dahulu,” tegasnya.
Bupati juga
menekankan, Perusda tetap memiliki peran strategis dalam memperkuat Pendapatan
Asli Daerah (PAD) Berau dan Pemkab Berau akan mencari solusi bersama DPRD Berau
untuk meningkatkan kinerjanya. (sep/FN/Advertorial)